Dua Santriwati SMAIT Darul Quran Sukses Taklukan Beasiswa S1 TDV 2020 di Negeri Dua Benua

Bogor (7/10/2020) – Mereka membutukan medan kompetisi yang tak terbatas, sebab ketidakterbatasan itu akan mendorong munculnya semua potensi tersembunyi dalam diri mereka. Bagi mereka, berjuang saja sudah merupakan suatu kemenangan. Yaitu, kemenangan atas rasa takut, kemenangan atas rasa lelah, dan kemenangan atas diri sendiri. Karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah Swt. Jika suatu ketika sejarah manusia memberi mereka posisi yang terhormat, itu hanyalah – seperti kata Rasulullah saw, “berita gembira yang dipercepat.” 

Dan nampaknya, hal itu itu sudah sangat matang direncanakan oleh 2 Hafizhah 30 Juz SMAIT Darul Quran, yakni Vira Aulia Rahmah dan Farah Nuha Taqiyya dalam sebuah misi menaklukan Negeri Dua Benua, Turki dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi diri, mengolahnya, dan kemudian mengkristalisasikannya pada momentum yang tepat demi memenangkan kompetisi di tingkat Dunia.

Pada seleksi internasional beasiswa Diyanet Scholarship 2020, keduanya berhasil Meraih beasiswa S1 dari lembaga bergengsi Turkiye Diyanet Foundation (TDV) untuk kuliah agama Islam International Theology Undergraduate Program usai bersaing dengan 6295 pendaftar dari seluruh dunia yang diantara jumlah tersebut memperebutkan 215 kuota jenjang SMA Imam Hatip Internasional dan 80 kuota jenjang S1 International Theology Program. Di Indonesia sendiri, terdapat 40 orang yang dinyatakan lolos berkas hingga memasuki tes wawancara untuk jenjang S1. Dari tahapan itu, terpilihlah 7 orang terbaik perwakilan Indonesia yang 2 diantaranya berasal dari SMAIT Darul Quran.

Capaian alumni SMAIT DQ yang kembali menembus cakrawala negeri 2 benua dalam 2 tahun berturut-turut, tidak lepas peran dan kontribusi dari berbagai pihak yang turut bersumbangsih dalam keberhasilan keduanya terlebih pengalaman yang dibagikan oleh Mentor Program Lanjut Studi Luar Negeri, Dr. rer. nat. Catur Sriherwanto. Sosok Peneliti BPPT Bidang Bioteknologi yang telah menyelesaikan studi S1-S3 melalui program beasiswa pendidikan di tiga negara berbeda, yakni Inggris, Australia dan Jerman. Baginya, "hidup adalah Bermanfaat Untuk Orang Lain”. Karenanya, berkat perhatian dan pengalamannya itulah menjadikan banyak lulusan Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia mampu terbang tinggi menggapai impiannya di berbagai jenjang pendidikan di luar negeri.

Baca! 2 Alumni SMAIT DQ Berhasil Lulus Seleksi Beasiswa S1 YTB Turki 2019

Untuk bisa lulus dalam seleksi beasiswa ini sangat tidak mudah, bahkan klasifikasinya sangat tinggi dimana perjuangannya dimulai dari seleksi internal DQ. "Santri yang berminat harus memperoleh rekomendasi sekolah dengan memenuhi sejumlah persyaratan ; Nilai rerata rapor semester 1 - 5 di atas 90, rerata nilai (TryOut) UN di atas 70 selain Bahasa Indonesia, ranking 3 besar akademis di kelas, memiliki sertifikat keorganisasian dan piagam juara lomba tingkat regional, nasional, atau internasional terkait bidang kuliah, serta memiliki keterampilan berbahasa Inggris yang lancar dan fasih” hingga mengikuti proses pendaftaran beasiswa secara online berbahasa Inggris serta tes wawancara berbahasa Inggris", ujar Guru SMAIT DQ bidang Sains yang biasa dipanggil dengan sebutan Ustadz Catur itu.

Lanjutnya, kata mentor yang khusus membimbing program seleksi beasiswa SMA Imam Hatif Internasional, YTB dan TDV Turki ini berpesan kepada para santri yang berminat mengikuti seleksi beasiswa luar negeri ini agar mempersiapkannya sedini mungkin karena hanya orang-orang terbaiklah yang pantas mendapatkan penghargaan ini.

“Saya sering mengulang-ulang bahwa studi di luar negeri itu sepuluh kali lebih berat dari studi di DQ. Beasiswa luar negeri adalah penghargaan internasional, apresiasi tingkat dunia, yang sudah sewajarnya diberikan kepada para santri yang menunjukkan prestasinya di tingkat sekolah, regional, maupun nasional. Jangan bermimpi mendapatkan beasiswa tersebut, jika di tingkat sekolah saja sudah minim prestasi. tapi jangan pernah putus asa, karena pemberian terbaik akan Allah berikan kepada mereka yang ikhtiarnya all out dan Allah Bersama orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan”.

Vira Aulia Rahmah, putri dari pasangan Bapak Mulyadi dan Ibu Sri Winarti ini seketika sujud syukur saat dinyatakan lulus seleksi beasiswa TDV. “Alhamdulillah bersyukur banget. Sempat tidak percaya kalau dinyatakan lulus. Bahkan sampai buka email berkali-kali untuk mastiin beneran lulus seleksi,” kata Vira yang telah menyelesaikan 6 tahun masa pendidikan di Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia ini.

Hafizhah asal kota Belitung, Provinsi Bangka Belitung ini berkisah, betapa beratnya sebuah perjuangan dalam proses seleksi beasiswa TDV mulai dari tahap seleksi internal DQ hingga program mentoring beasiswa tersebut.

“Harus ada yang dikorbankan, apalagi kelas 12 yang jadwalnya padat dan pemakaian alat elektronik dibatasi. Awalnya kemampuan bahasa Inggris sangat pas-pasan, tapi alhamdulilah dengan berlatih setiap hari beberapa bulan secara mandiri maupun bersama tim, gak nyangka ada peningkatan, menjadi semakin lancar dan fasih. Bahkan merasa menikmati dan sangat nyaman menjawab setiap pertanyaan pakai bahasa inggris”, terang Vira peraih juara 1 MHQ 5 Juz Provinsi Bangka Belitung Tahun 2016 lalu itu.

Ungkapan senada juga disampaikan oleh Farah Nuha Taqiyya, yang pernah meraih penghargaan santri teladan SMAIT Darul Quran di bidang Al-Quran pada 2017 lalu.“Tidak percaya, terharu, senang, bersyukur, campur aduk. Karena setahu saya beasiswa ini hanya menerima sedikit saja dari sekian banyak pendaftar," ujar Farah, putri dari pasangan bapak Dardewantara dan ibu Risna Sofa.

Menurut Ketua OSDQ Putri Tahun 2018 yang pernah menjuarai MTQ Ke-51 Kabupaten Bekasi Cabang Tafsir Bahasa Inggris ini, Persiapan terberat adalah menyusun “Letter of Intent” atau surat motivasi dan persiapan tes wawancara.

Untuk adik-adik kelasnya yang hendak mendaftar beasiswa TDV, alumnus SMAIT Darul Quran asal Bekasi ini berpesan, “Kuatkan niat, totalitas dalam ikhtiar dan perbanyak doa. Harus sabar, karena prosesnya panjang dan pengumumannya lama”.

Senada dengan Farah, Vira pun turut menyemangati adik-adik kelasnya mengutip kalimat penyemangat :“So, your biggest weakness is when you give up, and your greatest power is when you try one more time,” yang maknanya: “Kelemahan terbesarmu adalah ketika dirimu berhenti berusaha, dan kekuatan terbesarmu adalah ketika dirimu berusaha sekali lagi.” “Selalu belajar dengan sungguh-sungguh tanpa mengeluh dan berdoa kepada Allah, maka indah semua kan kau dapati. Always do your best, and let Allah do next,” demikian Vira memotivasi adik-adik kelasnya yang berminat mendaftar beasiswa TDV Turki.

Sejumlah fasilitas yang diberikan melalui Beasiswa ini mencakup banyak hal ; asrama, makan, uang saku bulanan, tiket pulang pergi tiap tahun ke tanah air, pengurusan ijin tinggal, asuransi kesehatan, tunjangan pakaian musim dingin, tunjangan fasilitas pendidikan, serta biaya dan fasilitas ekstra dan kebutuhan lain yang lebih dari cukup. Adapun tahapan proses seleksi dari pendaftaran online dan upload berkas berbahasa Inggris, tes potensi akademik, psikologi interview, tes baca dan hafalan Al Quran, tes pengetahuan umum, agama Islam serta wawasan keTurkian langsung di Jakarta.

Penerima beasiswa ini nantinya akan ditempatkan di sejumlah Fakultas Agama Islam terbaik di Turki, diantaranya Universitas Ankara, Universitas Marmara, Universitas Istanbul, Universitas Erciyes, Universitas Uludag, dan Universitas Necmettin Erbakan.Darisanalah lahir banyak tokoh-tokoh besar di Dunia, seperti halnya Presiden Turki saat ini, Reccep Tayyip Erdogan yang merupakan lulusan terbaik dari Universitas Marmara.

Mereka tidak pernah menyangka jalan hidup yang demikian. Karena mereka hanyalah merencanakan, tapi Allah Swt lah yang menentukan. Setiap bagian kehidupan yang dijalani layaknya sebuah potongan puzzle yang pada akhirnya - semua pengalaman, pemikiran, perenungan, serta hikmah kehidupan yang didapat - meski pada awalnya hanya berupa potongan yang belum jelas bentuknya - akan dapat terangkai menjadi sebuah gambar besar di akhir kehidupan. Mereka pun tak tahu, bagian puzzle mana yang sedang dirangkai selanjutnya ini. Namun yang terpenting mereka akan terus merangkai puzzle kehidupannya agar menjadi gambaran yang utuh penuh kebaikan.

Kehidupan adalah 10% yang terjadi pada diri kita dan 90% sisanya adalah bagaimana kita menghadapinya. Begitu kata Dhony Dirgantoro #5cm. Mereka menjadi yang terbaik bukan karena kepintarannya, melainkan mereka mampu berpikir lebih lama, berusaha lebih keras, dan berdoa lebih banyak.

Itulah gambaran hidup yang berhasil mereka rangkai usai menaklukan negeri sang penakluk dalam seleksi Beasiswa TDV bahwa obsesi untuk terus maju melalui kompetisi yang tak terbatas dalam meraih posisi paling terhormat di sisi Allah Swt kelak akan mengantarkan mereka menjadi Pemimpin Masa Depan yang Islami, Visioner, dan Berpengetahuan Global.

Redaktur/AS
SEMANGAT MENGINSPIRASI